Kamis, 16 Juni 2011

Mengangkat dan Melestarikan Budaya Toraja lewat paskah

CIBUBUR (TCN)–Masyarakat Toraja di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek) baru-baru ini merayakan Paskah dengan nuansa khas budaya Toraja. Selain ibadah syukuran, event ini dimaksudkan untuk mengangkat dan melestarikan budaya Toraja. Olive Bendon berbagi pengalaman mengikuti kegiatan terebut.
Sabtu (21/5) Bumi Perkemahan (Buperta) Cibubur tampak seperti Toraja kecil karena sebagian masyarakat Toraja yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Toraja (IKAT) Jabodetabek berkumpul dalam kebaktian syukur padang dalam rangka Paskah 2011. Serupa dengan tahun-tahun sebelumnya, kegiatan Paskah tahun ini kembali mengangkat keragaman budaya Toraja yang dipadukan dalam tata ibadah.
Setiap perwakilan jemaat membawa “lettoan” yang diarak dalam prosesi memasuki lapangan tempat dilangsungkannya kegiatan. Lettoan adalah tandu yang dihias dan diisi dengan berbagai hasil pangan bahkan babi, diusung oleh para lelaki diiringi pekik kegembiraan sebagai ungkapan rasa syukur. Untuk kegiatan di Buperta ini, lettoan cukup dihiasi dengan kain merah Toraja yang diatasnya diberi telur raksasa sebagai lambang telur Paskah. Anggota jemaat yang hadir duduk bersama di atas tikar yang digelar di dalam tenda yang telah disiapkan berdasarkan asal jemaatnya.
Dalam khotbah Paskah yang dibawakan oleh Bapak Jonathan L. Para’pak, sesepuh Toraja, menekankan pentingnya mengasihi, melayani dan memberi dengan kasih yang tulus tanpa memandang strata sosial.
Pengumpulan persembahan dilakukan dengan mengedarkan kotak persembahan yang diedarkan oleh putra putri berbusana daerah. Mereka kemudian melanjutkan dengan persembahan syukur tari Pa’gellu yang dibawakan secara massal oleh ibu-ibu, remaja putri, anak sekolah minggu sampai anak-anak kecil; disambut hangat hadirin yang turun ke lapangan menari mengikuti irama gebukan gendang para pemuda. Persembahan yang terkumpul dalam ibadah serta pa’toding (= uang yang didapatkan para penari dari jemaat yang diselipkan disela konde/rambut ataupun baju) disumbangkan untuk korban bencana di Toraja dan sekitarnya. Selain Pa’gellu, juga ditampilkan musik bambu Toraja Ma’pompang serta persembahan paduan suara jemaat.
Selesai ibadah, dilanjutkan dengan ramah tamah dan makan siang dengan sajian makanan khas Toraja pa’piong (= daging babi yang dimasak dengan aneka bumbu lalu dibakar di dalam bambu) yang sudah ditunggu-tunggu dan aneka lauk lainnya.
Ternyata setelah makan siang bersama, acara masih berlanjut dengan tari Dero’ (= tarian syukur yang dilakukan dengan bergandengan tangan dan bergerak bersama mengelilingi lettoan diiringi lagu pujian) yang ternyata sudah ditunggu-tunggu. Begitu musik diputar, tua muda, majelis, pendeta turun bersama membentuk lingkaran bergandengan tangan bergerak mengikuti irama.

MA'TODING
Suatu kegiatan yang patut untuk disosialisasikan, karena melalui acara ini masyarakat Toraja yang sudah lama berada di perantauan dapat melepas kerinduan akan kampung halamannya. Melalui kegiatan ini pula diharapkan generasi muda mengenal lebih dekat budaya daerahnya dan memupuk rasa cinta pada tanah leluhurnya. Dan yang utama dari semua itu adalah tetap terpeliharanya kerukunan antar umat beragama, serta tetap terjalinnya ikatan persaudaraan antarmasyarakat Toraja maupun dengan lingkungan sekitarnya. [olive]

Sumber: http://sosbud.kompasiana.com/

0 komentar:

Poskan Komentar