Kamis, 30 Juni 2011

Ciri-ciri Umum Arsitektur Renaissance

Pada umumnya arsitektur bangunan masa Renaissance memiliki fungsi keagamaan seperti gereja dan kapel (peninggalan dan melanjutkan bangunan masa Medieval), bangunan-bangunan istana, pusat pemerintahan dan rumah-rumah kediaman pendeta atau saudagar (yang merupakan anggota masyarakat yang terhormat). Teori-teori yang menonjol pada bangunan tersebut adalah : Penerapan konsep simetri yang kuat, pada tampak dan ruang dalam bangunan. Mayoritas pemakaian bahan bangunan/material dari marmer pada interior dan
warna bangunan yang cenderung monochrome atau satu warna. Bangunan kaya akan elemen dekoratif, baik pada interior maupun eksterior bangunan. Elemen dekoratif tersebut umumnya berupa ukiran/sculpture, relief serta lukisan-lukisan. Tema elemen dekoratif tersebut umumya melambangkan karakter-karakter atau penginterpretasian alam dan sosok manusia, flora, fauna serta pemandangan alam. Pada ruang dalam, bagian dinding dan langit-langit umumnya dilapisi ukiran (stucco) yang obyeknya seputar flora, sosok dan perilaku dari fauna dan manusia, topeng-topeng, perahu maupun perisai. Penggunaan patung yang dipadukan dengan detail arsitektural, baik pada interior maupun eksterior. ada façade bangunan terdapat deretan kolom-kolom dengan kepala dihiasi elemen dekoratif bermotif flora, susunan order dapat berupa Doric, Ionic, maupun Corinthian. 

Penerapan garis-garis hirisontal dan elemen-elemen busur pada bidang datar. Atap, baik atap perisai maupun datar dilengkap dengan hiasan, baik berupa Lantern, Louvre, Lucarne, Ammortizement, Tympanum maupun Balustrade.

Contoh-Contoh Arsitek dan Bangunan di Awal Renaissance Brunelleschi.
  Menciptakan perletakan dome untuk memperkuat kesan horizontal, membuat dinding rangkap untuk memberi kesan berat pada bangunan, memakai konstruksi Gothic dengan merenggangkan kulit luar dome dengan 24 kerangka dan mengarahkan profil bangunan dengan menggunakan konstruksi dome. (bangunan: S. Spirito dan Cathedral of Florence). Alberti.   Menyatukan dua konsep matematik dan lukisan sebagai elemen dekoratif. Bangunan berciri megah dan memiliki konsep simetris. (bangunan : S. Andrea, Mantua). Perencanaan Kota dan Istana di Pienza, Urbino dan Florence, Konsepnya mengimbangi blok-blok masa berdinding masif dengan unsur-unsur horisontal, dan deretan kolom dengan irama tertentu yang diberi sentuhan akhir pada kaki dan kepala kolom tersebut. atap  konstruksi kayu dibuat datar dengan dibatasi cornice. (bangunan : Gaudagni Palace, Florence dan Grimanti Palace, Venice).

Contoh-Contoh arsitek dan bangunannya yang dianggap ‘High’ Renaissance
Bramante   ciri utama menimbulkan kesan baru pada bentuk bangunan yang cenderung menjadi dinamis (misalnya: bentuk lengkung) dan monumental. (bangunan : St. Peter, Rome 1506). Michelangelo bangunan berpijak pada konsep antik roman, dengan memperhatikan elemen dekoratif berupa lukisan pada plafond dan sculpture dengan motif-motif klasik. (bangunan : Modern Capital di Roma). 

sumber referensi :

Ching, Francis  DK, 1987,  Architecture: From, Space and Order, Van Nostrand
Reinhold.
Funk dan Wagnalls, 1990, New Encyclopedia, vol – 22.
Klassen, Winand, 1992, Architecture and Philosophy, Philipines: Calvano Printers
Cebu City.
Kruf, Hanno-Walter, 1994, A History of Architectural Theory, Princenton
Architectural Press.
Mangunwijaya, YB, 1987, Wastu Citra, Gramedia, Jakarta.
Meiss, Pierre von, 1985, Elements of Architecture, Van Nostrand Reinhold.
Soger, Smith T., 1987, An Ilustrated of History Architecture Style, Omega Books.
Soger, Smith T., 1989, An Ilustrated of History Architecture Style, Omega Books.
Sumalyo, Yulianto, 1997, Arsitektur Moder Akhir Abad XIX dan Abad XX.
Gajahmada University Press, Yagyakarta.







0 komentar:

Poskan Komentar