Senin, 06 Juni 2011

Bamba Puang Mountain



Bambapuang yang tak dilirik. Sebuah ulasan mengenai kondisi Bambapuang yang semakin ditinggalkan oleh zaman setelah teman-teman Bramatala mengadakan Adventure Season di daerah tersebut dengan mengkonsumsi data oleh penduduk setempat. Semoga ulasan ini dapat berguna bagi teman-teman yang memerlukannya.

Tebing Bambapuang terletak di daerah Dusun Kotu, Desa Bambapuang.sulsel. Tebing Bambapuang termasuk tebing yang rawan akan bebatuan yang jatuh. Dalam sehari batu rapuh yang jatuh tanpa di panjat bisa mencapai lebih dari 8 batu bahkan lebih, kaki – kaki bambapuang dipenuhi dengan bebatuan yang runtuh dan menumpuk, sehingga sulit untuk menuju titik start pemanjatan. Tebing Bambapuang dipenuhi dengan tumbuhan lalang dan pohon yang tidak terlalu besar, sehingga membuat tebing Bambapuang mudah untuk terbakar, tidak jarang pula tebing bambapuang terbakar. Tiga hal larangan untuk pemanjatan di tebing Bambapuang, pertama ketika sedang manjat melihat asap segera turun, kedua hari jumat dilarang untuk melakukan pemanjatan, ketiga ketika hujan carilah tempat yang aman atau segera turun disebabkan banyak batuan yang jatuh ketika hujan.

Bambapuang adalah sebuah desa yang terletak di Kecamatan Anggereje Kabupaten Enrekang Propinsi Sulawesi Selatan . Desa ini memiliki luas daerah 1,489 km² dengan jumlah penduduk menurut data sensus 2008 sebanyak ± 3.117 jiwa dengan pembagian 1.546 laki laki dan 1.571 perempuan ,dari jumlah penduduk tersebut kelompok yang masih produktif dengan patokan umur adalah antara 19 s/d 50 tahun dengan jumlah 1.040 jiwa dengan tingkat kepadatan penduduk 21 jiwa km². Batas Wilayah Desa Bambapuang yakni sebelah utara berbatasan dengan Desa Mandate, sebelah selatan berbatasan dengan Kelurahan Tuara, sebelah barat berbataan dengan Desa Tindalun dan sebelah timur berbatasan dengan Desa Rossoan. Desa Bambapuang terletak pada ketinggian 500 mdpl jarak tempuh dari desa ke kecamatan sekitar 12km dengan waktu tempuh antara 25 sampai dengan 25 menit sedangkan jarak tempuh untuk fasilitas terdekat (seperti kesehatan, ekonomi, pemerintahan ) adalah 5 sampai 10 menit. Sumber air dari masyarakat bambapuang adalah air dari gunung yang disalurkan langsung dengan system perpipaan dan di kelolah oleh masyrakat sakitar melalui LKMD ( Lembaga Kegiatan Masyarakat Desa). Ada juga masyarakat di sana yg mengunakan sumur galian atau sumur bor sebagai sumber air bersih, suku yang berada di provinsi ini yaitu Makassar, Bugis, Toraja dan Mandar.

Tim melakukan sosialisasi pedesaan dengan warga seputar mata pencarian, pendidikan, agama, adat istiadat, sejarah tebing, flora, fauna, dan system administrasi setempat. Adapun rumah warga yang kami jadikan sebagai tempat tinggal dan basecamp yaitu rumah bapak burhan atau lebih dikenal dengan Pak Pancu. Pada umumnya mata pencaharian yang penduduk Desa Bambapuang adalah sebagai petani, diantaranya ada yang menanam coklat, menanam kacang merah, dan menanam jagung. Selain itu ada juga yang berkerja sebagai pegawai, pedagang, dan TKI , sehingga pertumbuhan ekonomi di Desa Bambapuang tergolong baik. ,jika musim hujan tiba masyarakat di sana

lebih suka menanam sayur sayuran dan jika musim hujan tiba masyarakat disana lebih sering menanam jagung dari pada padi karena biaya perawatnnya lebih murah di bandingkan menananm padi apabila masa panen tiba warga di sana saling gotong royong membantu mengolah hasil panen tersebut. Di desa ini sulit untuk menanam padi di karenakan tekstur tanah yang berbatuan dan sulit untuk mencari air . Rata - rata penduduk di sana memiliki tanah pertanian seluas 2 ha tiap keluarga dan sebagian besar lahan tersebut ditanamin oleh jagung dan coklat.

Tingkat pendidikan yang ada di Desa Bambapuang, kurang memadai karena di sana hanya ada tingkat SD dan SLTP sedangkan untuk Tingkat SMA penduduk disana harus melanjutkan keluar desa sekitar 30 menit dari sana. Rata-rata penduduk di sana hanya meyelesaikan tingkat pendidikan sampai SMA di karenakan faktor ekonomi masyarakat di sana,yang kurang mampu untuk membiayai anaknya melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi, walau pun begitu tetap ada juga penduduk disana yang melanjutkan pendidikan hingga S2.

Mayoritas agama yang dianut oleh penduduk disana pada umunya adalah agama Islam. di sana masih terasa kental nuansa keagamaannya, sebagai contoh masyarakat di sana bila ingin mengundang ke pernikahan atau musyawarah mereka selalu melakukan di masjid selesai sholat jumat di karenakan penduduk disana setiap hari jumat mereka turun untuk belanja atau menjual hasil panen kepasar pada hari sabtunya. Jadi waktu itulah yang digunakan untuk mengumpulkan warga. Adat istadat di Desa Bambapuang di lakukan jika ada upacara pernikahan, bila mana disana bagi kaum laki laki harus membawa kayu bakar jika ingin hadir dalam acara Pernikan tersebut sebagai penganti hadiah sebab masyarakat disana masih mengunakan kayu bakar sebagai perapaian untuk memasak dan bagi wanita harus membawa amplop kepada calon mempelai.

Daerah tebing Bambapuang sangat berpotensi sebagai kawasan wisata, jika dilihat dari ketinggian di sana terlihat pemandangan sangat menakjubkan dimana lokasi tebing Bambapuang bersebelahan dengan Gunung Nona dan Sungai Saddang. Sehingga di lirik oleh pemerintahan setempat untuk dijadikan objek wisata dengan cara membuat 1000 tangga, menurut warga di sana bambapuang berarti tangga raja konon kata warga di sana bambapuang itu merupakan sebuah pohon yang tinggi menjulang tinggi hingga sejengkal lagi sampai kelangit jadi di sana di gunakan sebagai media untuk menyampaikan wahyu dari yang di atas untuk penduduk di bumi. Pada suatu hari sang pengantar wahyu membuat kesalahan dengan menyelewengkan isi wahyu tersebut, jadi orang yang di bawah murka sehingga ditebanglah pohon itu hingga jatuhlah pohon itu kearah timur jadi sampai sekarang dari bambapuang hingga toraja tanahnya berbatuan, selain untuk media pengantar wahyu di sana juga tinggal seekor burung yang lagi mengeram telurnya karena pohon itu di tebang maka telur telur burung itu masuk keSungai Sadang sehingga sampai sekarang warna air Sungai Saddang berubah menjadi kuning dan menurut beberapa warga lainya mitos desa bambapuang berawal dari sebuah raja yang mempunyai sepasang anak laki laki dan perempuan yang rupawan pada suatu hari si pangeran meminta kepada ayahnya untuk dinikahkan dengan anak adiknya karena dia tidak mau menikah selain dengan adiknya karena rasa sayang ayahnya kepada anaknya maka di kabulkanlah permintan anaknya tersebut pada saat berlangsung pernikahan. Gunung Bambapuang meletus mengeluarkan batu batu besar dan berhamburan hingga Tanah Toraja jadi mulai dari situlah tanah disana berbatuan.

Dipublish Oleh Humas BRAMATALA - UTama Jl.Cikutra 204A. Bandung-40125 Bramatala@yahoo.com

0 komentar:

Poskan Komentar