Senin, 06 Juni 2011

Dosa Versi Aluk To Dolo (Hancurnya Eran Di Langi')

Passomba Tedong Versi Makale- Tallu Lembangna berbicara mengenai Pelanggaran

Londong dirura, yang dapat disebut “Dosa Asal” Versi Aluk To Dolo (PTM-TL, 606-658). Tentang kisah Londong dirura terdapat berbagai versi, walaupun pada umumnya intinya di mana-mana sama. Mahluk Purwa Mula adalah mereka yang di turunkan ke bumi oleh Puang Matua, Sang Pencita, melalui sebuah tangga (Eran di Langi’) sambil membekalinya dengan segalah aturan dan Pemali agama (Sukaran Aluk sola Pemali) pada mulanya segalanya baik adanya. Manusia dan makhluk-makhluk lainnya berkembang dan hidup sejahtera dalam harmoni yang sempurna. Hubungan manusia dengan Puang Matua sangat dekat. Manusia dengan mudahnya naik turun Eran di langi’ untuk berkunsultasi dengan Puang Matua. Namun lama-kelamaan manusia mulai takabur. Mereka mulai mengabaikan kewajiban-kewajiban agama dalam hidup sehari-hari dan melanggal pemali-pemali. Muncullah seorang hartawan, namanya “Londong Dirura” tinggal di Rura dekat Bamba Puang, sebelah utara Enrekang) bertegar tengkuk mengawinkan anak kandungnya sendiru (Inses); terdapat berbagai versi tentang jumlah anak, ada yang mengatakan hanya sepasang (satu putra dan satu putri), ada yang dua pasang, dua putra, dua putri, ada pula yang mengatakan empat putra, empat putri. Adapun motif perkawinan inses itu tampaknya adalah agar harta kekayaan tetap tinggal dalam keluarga sendiri tetapi perbuatan ini tidak dapat ditolerir oleh Puang Matua. Dalam amarah-Nya ia meruntuhkan Eran di Langi’. Dan sebagian dari mereka yang ikut dalam pesta nikah itu tewas, ada yang menjadi batu, ada pula yang tenggelam ke dalam celah yang dalam. Sedangkan desa Rura tertutup dengan air.
Demikianlah dalam kisah Londong di Rura kira menemukan tema religius umum menyangkut dosa. Dosa menyebabkab putusnya hubungan erat antara manusia dengan Tuhan, yang disini di lambangkan dengan runtuhnya Eran di Langi’. Dosa juga mengakibatkan datangnya maut ke dalam dunia. Tetapi kisah Londong di Rura masih menambahkan dan menekankan unsur ketiga yaitu hilangnya harmoni asli dalam kosmos. Versi Londong di Rura dari Lempo diakhiri dengan kata-kata berikut : Tontong dipangadaran lako tarukna kumua, apa iatu mai napogau’ to diponene’ dolona, iamo napomate. Dadi tang ma’din dipogau’, belanna lanasanggangki, lanatumang burana padang, na tae’ apa dipotuo. Mangka disa’bii, dadi tasik lo’ Rura (Selalu dijadikan pengajaran kepada keturunannya bahwa, apa yang telah diperbuat oleh nenek moyangnya dahulu kala, itulah yang mengakibatkan mereka mati. Karena itu tidak boleh kita perbuat, sebab hal itu akan menghancurkan kita, itu akan merusak keseuburan tanah, sehingga kita kehilangan sumber kehidupa, kita telah menyaksikan, di sana di Rura telah jadi Danau). Sebuah versi lain menegaskab bahwa Tanaman padi tak lagi tumbuh sebagaimana mestinya dan tidak menghasilkan buah yang di harapkan. Wabah menyerang ternak sehingga tidak lagi dapat berkembang biak, dan penyakit mendera manusia.
Sumber: Buku Prof.Dr. C. Salombe

0 komentar:

Poskan Komentar