Selasa, 15 November 2011

ARSITEKTUR TRADISIONAL BALI JILID 1

Bali terletak di daerah khatulistiwa dengan daerah tropis dengan suhu rata-rata 26oC.
Umumnya, perkampungan di Bali menggunakan pola Pempatan Agung yang disebut Nyatur Desa atau Nyatur Muka. Dua jalan utama yang menyilang desa, Timur dan Barat serta Utara-Selatan membentuk silang pempatan sebagai pusat desa. Balai Banjar sebagai pusat pelayanan sub lingkungan menempati keempat arah ke arah sisi desa dengan jalan-jalan sublingkungan sebagai cabang-cabang jalan utama.

Di Pempatan Agung sebagai  pusat lingkungan, Pura desa dan Pura Puseh atau Puri menempati zone kaja kangin, Balai Banjar atau wantilan desa menempati zone kaja kauh, lapangan desa menempati zone kelod kangin, dan zone kelod kauh ditempati pasar desa. Kuburan desa ditempatkan di luar desa pada arah kelod atau kauh yang merupakan zone bernilai rendah. Tata letak perumahan dan bangunan-bangunan pelayanan disesuaikan dengan keadaan alam dan adat kebiasaan setempat.


Potensi dan kondisi alam lingkungan lokasi desa banyak mempengaruhi pola  perkampungan. Desa nelayan umumnya memanjang sepanjang pantai menghadap ke arah laut, pola lingkungan mendekati bentuk linier dengan jalan searah pantai. Ruang-ruang terbuka untuk aktivitas bersama diletakkan di dekat pantai karena penggunaannya berkaitan  dengan matapencaharian masyarakat sebagai nelayan. 

Pola perkampungan petani umumnya berorientasi ke arah tengah dengan ruang-ruang terbuka di tengah sebagai ruang bersama. Arah ke luar desa digunakan untuk kandang-kandang ternak dan hubungan ke tempat kerja di
luar desa.

Desa-desa di pegunungan umumnya berorientasi ke arah puncak gunung, di mana lintasan jalan yang membentuk pola lingkungan disesuaikan dengan kemiringan lahan dan lereng. Puncak tertinggi digunakan sebagai orientasi bersama. Tempat suci bersama dan tempat untuk pemujaan di masing-masing keluarga ditempatkan di bagian yang lebih tinggi atau ke arah orientasi bersama. Lokasi yang berlereng ke beberapa arah menjadikan tempat suci tidak hanya ke arah kaja atau kangin. Pola perkampungan di desa yang lokasinya di dataran dengan latar belakang laut atau pegunungan umumnya mendekati pola-pola tradisional yang umum berlaku.

Pola perkampungan berpusat di tengah dengan Pempatan Agung sebagai pusat desa. Penataannya disesuaikan dengan keadaan lokasi dan sistem kemasyarakatannya. Lokasi desa ada di pegunungan, di dataran, dan di pantai. Desa-desa di pegunungan umumnya menggunakan pola menyebar, cenderung mendekati tempat-tempat kerja di perkebunan atau ladang pertanian. Pola perkampungan menyebar membentuk sub-sub lingkungan yang berjauhan yang dihubungkan dengan jalan setapak ke desa induk. Pamerajan atau sanggah dadia dan kawitan ada di desa induk. Balai banjar ada di desa induk dan juga dibangun di sub-sub lingkungan.


Masyarakat Unit-unit permukiman di Bali disebut Desa Adat yang mengatur horisontal, satu atau beberapa desa adat  disebut desa administratif atau desa dinas yang mengatur vertikal ke bawah dan pemerintahan di atasnya.

Syarat untuk adanya suatu desa adat adalah lengkapnya Tri Hita Karana: atma, angga, dan khaya (jiwa, fisik, dan tenaga) yang berlaku pula bagi kehidupan lainnya. Dalam suatu desa adat, Kahyangan Tiga sebagai jiwa, Siwa Krama Desa (penduduk yang berpemerintahan) sebagai tenaga, dan teritorial desa sebagai fisiknya. Dengan demikian, penduduk adalah mereka yang bertempat tinggal menetap, berpemerintahan, dan diatur oleh peraturan-peraturan adat desa. Di dalam suatu desa adat ada ikatan-ikatan kependudukan yang disebut nyama (keluarga), soroh (klan), pisaga (tetangga), braya (keluarga luar), tunggal dadia (satu keturunan). Penduduk suatu desa umumnya terdiri dari beberapa keluarga atau beberapa klan sehingga di satu desa atau di satu banjar ada beberapa sanggah pamerajan kawitan atau dadia. Penduduk di Bali juga terdiri dari beberapa tingkatan kasta: Brahmana, Ksatria, Wesia, dan Sudra.

Tumbuh dan berkembangnya arsitektur tradisional dengan baik disebabkan pula oleh agama, adat dan kepercayaannya yang hidup sejalan dengan arsitekturnya. Ajaran agama Hindu yang dianut oleh penduduknya
menjiwai dan melatarbelekangi arsitektur Bali. 80% penduduk Bali adalah petani. Masyarakat yang mula-mula menghuni Bali disebut sebagai penduduk Bali Mula. Imigran-imigran dari India yang masuk ke Indonesia masuk pula ke Bali yang kemudian dianggap sebagai penduduk Bali Aga atau Bali pegunungan. Ketika Bali dikuasai oleh  Majapahit pada abad ke-14, masuklah orang-orang Majapahit ke Bali, yang kemudian disebut sebagai penduduk Bali Arya.

Arsitektur tradisional Bali berkembang pesat setelah masuknya Bali Arya dari Majapahit yang disertai masuknya budayawan. Desa adat merupakan suatu bentuk permukiman dengan pola “tri hita karana” jiwa, fisik, dan tenaga, yang masing-masing diwujudkan dalam bentuk kahyangan tiga, desa pakraman dan
sima krama sebagai  tempat ibadah, teritorial fisik desa dan warga dengan tata aturannya. Rumah tinggal merupakan unit-unit perumahan yang diatur dalam kelompok-kelompok “banjar” sebagai unit sub lingkungan dalam sebuah desa.


Tingkatan-tingkatan kasta, status sosial, dan peranannya di masyarakat merupakan faktor-faktor tingkat perwujudan rumah tempat tinggal utama, madya, dan sederhana. Pengelompokan rumah ke dalam tingkatannya ditinjau dari luas pekarangan, susunan ruang, tipe bangunan, fungsi, bentuk, dan bahan
penyelesaiannya. Rumah tinggal diberi nama sesuai tingkatan kasta yang menempatinya. Puri merupakan rumah tinggal utama, Geria, Jero, dan Umah untuk rumah tingkat madya atau utama, dan kadang sederhana, sedangkan kubu dan pakubon untuk tingkat sederhana.

1. Geria
Rumah tinggal untuk kasta Brahmana disebut geria yang umumnya menempati zone utama dari suatu pola lingkungan. Pola ruang geria disesuaikan dengan peranan Brahmana selaku pengemban bidang spiritual.

2. Puri
Puri merupakan tempat tinggal untuk kasta Ksatria yang memegang pemerintahan Umumnya menempati bagian kaja kangin di sudut pempatan agung di pusat desa. Puri umumnya dibangun dengan zoning berpola sanga mandala, yakni semacam papan catur berpetak sembilan. Bangunan-bangunan puri sebagian mengambil tipe utama. Antara zone satu dan lainnya dari petak ke petak dihubungkan dengan pintu kori. Fungsi masing-
masing bagian antara lain untuk:
o  Ancak saji: halaman pertama untuk mempersiapkan diri masuk ke Puri (kelod kauh)
o  Semanggen untuk area upacara pitra yadnya/kematian (kelod)
o  Rangki untuk area tamu-tamu paseban/persiapan sidang, pemeriksaan, dan pengamanan (kauh)
o  Pewaregan untuk area dapur dan perbekalan (kelod kangin)
o  Lumbung untuk penyimpanan dan pengolahan bahan perbekalan/padi dan prosesnya (kaja kauh)
o  Saren kaja untuk tempat tinggal istri-istri raja (kaja)
o  Saren kangin/saren agung untuk tempat tingal raja (kangin)
o  Paseban untuk area pertemuan/sidang kerajaan (tengah)
o  Pamerajan agung untuk tempat suci perhyangan (kaja kangin)

Jero
Jero merupakan tempat tinggal untuk kasta Ksatria yang tidak memegang pemerintahan secara langsung. Pola ruang dan zoning, serta bangunannya umumnya lebih sederhana daripada Puri. Sesuai fungsinya, pola ruang jero dirancang dengan triangga: pamerajan sebagai parhyangan, jeroan sebagai area rumah tempat tinggal, dan jabaan sebagai area pelayanan umum atau halaman depan. Sebagaimana Puri, Jero juga menempati zoning utama kaja, kangin, atau kaja kangin yang umumnya berada di pusat desa.

Umah
Umah merupakan tempat tinggal kasta Wesia atau mereka  yang bukan dari kasta Brahmana dan Ksatria. Kedua kasta tersebut hanya sekitar 10% dari penduduk Bali.  Sebagian besar penduduk desa-desa dipegunungan dan pantai bukanlah kasta Brahmana atau Ksatria, sehingga rumah-rumah yang ada di daerah tersebut hanyalah  umah. Lokasi umah dalam perumahan di suatu desa dapat menempati sisi-sisi utara, selatan, timur atau barat dari jalan desa. Pusat-pusat orientasi adalah pempatan agung pusat desa atau bale banjar di pusat-pusat sub lingkungan. Unit-unit umah dalam perumahan berorientasi ke natah sebagai
halaman pusat aktivitas rumah tangga. Umah di dalam perumahan tradisional merupakan susunan massa-massa bangunan di dalam suatu pekarangan yang dikelilingi tembok penyengker batas pekarangan dengan kori pintu masuk ke pekarangan. Ruangan dapur, tempat kerja, lumbung, dan tempat tidur di bawah satu atap merupakan satu massa bangunan. Komposisi massa-massa bangunan umah tempat tinggal menempati bagian-bagian utara, selatan, timur, dan barat membentuk halaman natah di tengah. 

Kubu
Rumah tempat tinggal di luar pusat permukiman, di ladang, perkebunan atau tempat lainnya disebut kubu atau pakubon. Lokasi kubu tersebar tanpa dipolakan sebagai suatu lingkungan permukiman. Penghuni rumah tinggal pakubon atau kubu adalah petani atau  nelayan yang berpendapatan sedang atau rendah dengan kehidupan yang sederhana. Pola ruang kubu sebagai rumah tinggal serupa dengan pola rumah/umah.
Dapur, tempat kerja, lumbung, dan tempat tidur masing-masing berada di bawah satu atap/massa bangunan. Konstruksi bangunan, pemakaian bahan dan penyelesaiannya sederhana dan umumnya tidak permanen.  Batas pekarangan menggunakan pagar hidup, bangunan berlantai tanah, tiang dan rangka atap kayu atau bambu, dinding gedeg atap alang-alang. Detail-detail tanpa hiasan.

Untuk kegiatan spiritual, pengurusan atau bentuk-bentuk kehidupan tertentu pakubon disebut pedukuhan. Penghuni pedukuhan umumnya adalah mereka yang sudah lanjut usia dengan kegiatan yang mengarah pada sosial spiritual. Pedukuhan terletak di luar desa dengan suasana lingkungan yang mendukung fungsinya.
Dalam kehidupan tradisional, jadwal waktu dipolakan dalam empat brahmacari masa belajar, grehastha masa berumah tangga, wanaprastha masa pengabdian pengetahuan pengalaman sosial dan bhiksuka masa pendekatan ke alam abadi. Pada periode wanaprastha bertempat tinggal di pedukuhan.

Tipologi
Tipologi bangunan  tradisional umumnya disesuaikan dengan tingkat-tingkat golongan utama, madya, dan sederhana. Tipe terkecil untuk bangunan perumahan adalah sakepat (bangunan bertiang empat), yang membesar menjadi bangunan bertiang enam, delapan, sembilan, dan duabelas. Dari bangunan  bertiang 12 dikembangkan dengan emper ke depan serta ke samping dengan  penambahan tiang berjajar. Tembok penyengker (batas) pekarangan, kori, dan lumbung dalam bangunan perumahan tipologinya disesuaikan dengan tingkatan perumahan dengan fungsinya masing-masing.

Sakepat
Bangunan sakepat berukuran 3 x 2,5 meter bertiang 4.  Fungsi sakepat dan  letaknya:
o  sebagai sumanggen diletakkan di timur
o  sebagai pamerajan (untuk piyasan) diletakkan di barat
o  sebagai paon diletakkan di kelod kauh
Sakenem
Sakenem berbentuk persegi panajng dengan ukuran 6 x 2 meter. Fungsi sakenem berdasarkan letaknya:
o  sebagai sumanggen diletakkan di kangin atau kelod
o  sebagai paon ditempatkan di kelod kauh
o  sebagai bale dauh ditempatkan di kaja kelod
Sakutus
Sakutus merupakan bangunan madya dengan fungsi tunggal untuk tempat tidur  (bale meten) yang terletak di bagian kaja menghadap kelod. Sakutus berhadapan dengan semanggen, dengan natah di antara keduanya.
Pada proses pembangunan rumah, sakutus merupakan bangunan awal yang disebut paturon, selanjutnya perletakan bangunan lain ditentukan berdasarkan bale meten sakutus.
Sakutus merupakan bangunan persegi panjang berukuran 5 x 2,5 meter dengan konstruksi 8 tiang. Atapnya menggunakan sistem kampiyah, bukan limasan. Lantai bale sakutus lebih tinggi daripada bangunan lainnya.

Astasari
Dalam fungsinya sebagai sumanggen atau piyasan di pamerajan atau sanggah, astasari diklasifikasikan sebagai bangunan utama. Bangunan ini terletak di bagian kangin atau kelod yang berfungsi sebagai bale sumanggen, bangunan tempat upacara adat, tamu, dan tempat bekerja atau ruang serbaguna.  Astasari merupakan sebuah bangunan persegi panjang berukuran 4 x 5 meter  dengan tinggi lantai sekitar 0,6 meter yang terdiri dari 3-4 anak tangga dari natah. Dinding penuh terletak pada sisi kangin dan kelod, sedangkan dinding setengah sisi dan setengah tinggi terletak pada sisi teben kauh, dan terbuka ke arah natah.

Tiangsanga
Bentuk dan fungsi bangunan tiangsanga serupa dengan astasari, namun sedikit lebih luas dan memiliki tiang 9. Atap bangunan berbentuk limasan dengan puncak dedeleg dan berpenutup alang-alang. Fungsi utama bangunan tiangsanga adalah untuk sumanggen, yang terletak di bagian kangin atau kelod. Bangunan ini disebut juga bale dangin atau bale delod. Dinding tembok pada dua atau tiga sisi terbuka ke arah natah. Bangunan tiangsanga dapat pula difungsikan sebagai ruang tidur dengan tembok di tengah memisah ke arah luan balai-balai untuk ruang tidur dan ke arah teben untuk ruang duduk. Untuk tiangsanga yang difungsikan
sebagai tempat tidur umumnya menempati bagian barat menghadap ke timur.

sumber referensi :
Arinton Puja (ed) (1985)
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah Tahun 1981/1982

0 komentar:

Poskan Komentar